Wednesday, 10 April 2013

Fanfiction | Sin


Sin

Author : Dihilva
Cast : OC (Jason and Tyra)
Rating : PG - 15
Genre : Sad(?)


Zrrrsh..
Aku merasakan air  yang ditumpahkan dari langit. Dingin, terasa meremukkan tulang punggungku. Kurasakan tetesan air turun dari mata kemudian melewati leher jenjangku. Bukan. Ini bukan air hujan. Aku tahu, aku menangis. Lagi.

Tap.. tap.. tap..
Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat berjalan di belakangku. Mendadak tetesan air hujan itu berhenti membasahiku. Aku mendongakkan kepalaku, menatap payung putih yang kini memaksa air hujan itu berhenti menyentuhku.

“Kenapa masih disini?” Suara bass itu lagi. Pria itu membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya. Melepas jas yang ia kenakan, lalu menyampirkannya di tubuhku.

“Hiks..” Isakanku keluar dari bibirku. Aku tak sanggup menatapnya. Tak sanggup merasakan sakit saat perhatiannya diberikan padaku.

“K-kau kenapa menangis? Maafkan aku..” Kagetnya mendengar pertanyaannya tadi terjawab dengan isakanku. Ia memelukku dengan sebelah tangannya yang tidak memengang payung putih itu. Aku menggeleng pelan di dadanya. Ia mengelus lembut kepalaku.

“Ayo pulang. Jangan berteduh dibawah hujan seperti ini lagi.” Ujarnya lembut. Aku mengangguk pelan. 

“Berjanjilah!” tegasnya. Aku melepas pelukannya lalu menatap mata musangnya dan menggandeng tangannya.

“Ayo pulang” sahutku pelan tak menanggapi perkataannya tadi, aku takut tidak bisa menepatinya. Aku terlalu menyukai air hujan ini.
Dia mendesah pelan lalu merangkul pundakku dan melanjutkan perjalanan ke rumah kecil berwarna merah kami.

∙∙∙

“Kenapa?” Tanyaku pada pria yang tengah menyibukkan diri di mini-kitchen kami. Ia menoleh padaku, mengerutkan keningnya.

“Kenapa masih mengasihaniku?” Aku melanjutkan pertanyaanku, mengeratkan selimut yang kugunakan, menyandarkan tubuhku pada sofa.
Ia membawa dua buah cangkir yang mengepulkan asap. Menyodorkan salah satu cangkir padaku. Aku mengambilnya lalu menghirup aromanya. Ah, coklat panas. Ia tersenyum dan mendudukkan dirinya di sebelahku.

“Mengasihani? Tidak pernah sedikitpun terbesit di pikiranku untuk mengasihimu. Semua perhatian yang kuberikan bukan karena kasihan.” Ia menatapku dan membisikkan “Aku menyayangimu.” Aku tertegun.

“Dengan keadaanku yang menyedihkan seperti ini kau menyayangiku? Dengan alasan apa?” Gumamku pelan.

“Without any reasons. Just love you for today and forever more.”

“Bodoh..” Gumamku pelan. Sesaat hanya terdengar suara rintik hujan yang mulai mereda.

“Kenapa tidak kembali kepadanya? Kembalilah pada Vanny-mu..” Dia menatapku. Dapat kulihat rahangnya mengeras mendengar nama satu-satunya wanita yang sangat dibenci olehnya.

“ Dia tidak membutuhkanku.” Aku terdiam. Perkataannya benar, Vanny hanya menghianatinya hanya untuk bersama Daniel.

“Kau menyayanginya. Bahkan mencintainya, Jason.”

“Untuk apa aku mempertahankan orang yang kusayang jika aku sendiri tidak bisa menjaganya?” Sesaat, aku dapat melihat bayangan memorial masa lalu yang seolah berputar di depan mataku. Teriakan itu, mobil itu, kejadian itu seolah benar-benar terjadi kembali. Aku menatap iris obsidiannya. Ada ruang kosong di manik musang itu.

“Setidaknya kau harus ada di sisinya. Bukan di sini, bukan di sampingku.”Bisikku. Aku menunduk. Merasakan mataku yang memanas. Sesak.
Hening. Aku tau dia sudah pergi meninggalkanku sendirian.

∙∙∙

Ah, aku Tyra Larencque. Dua tahun lalu, aku tinggal bersama kedua orang tuaku, kakak laki-lakiku, dan adik perempuanku yang manis. Tapi, setelah kecelakaan beruntun itu, mereka semua pergi. Tidak, tidak semua. Kakak laki-lakiku masih bersamaku sampai saat ini. Ya, pria tampan dengan mata musang itu, Jason Larencque. Pria yang kucintai. Aku tau ini salah, tapi aku sudah masuk terlalu jauh ke dalam jurang kesalahan ini, hingga aku tidak bisa mencari celah jalan keluarnya.
Manik mataku memandang jauh keluar jendela, bulir air hujan yang tak kunjung reda itu seakan memutar kembali memori pahit itu.

∙∙∙
-Flashback-
“Sayang, mommy pergi okay? Jaga dirimu. Ah, Jason sebentar lagi pulang. Cepat sembuh ya sayang.” Aku mengangguk pelan, mengeratkan selimutku. Mama memelukku, aku sedikit mengelak karena suhu badanku yang terasa semakin panas.

“Mom, hati-hati diluar hujan.” Aku menatap wajah cantiknya, ia tersenyum.
Saat itu, aku tidak pernah membayangkan pelukan hangatnya akan menjadi pelukan terakhir di hidupku dan saat itu pula aku membiarkan mereka semua pergi.
Tak lama setelah mereka semua pergi, suara hujan deras disertai suara motor kakakku terdengar. Sekuat tenaga aku berusaha berdiri untuk membukakan pagar. Aku tidak ingin Jason kehujanan lebih lama di luar sana.
Aku berdiri di depan rumah, membawa sebuah payung putih. Membuka pagar hitam itu. Jason tersenyum, aku menghampirinya. Memeluknya erat, tidak peduli dengan demamku lagi.

BRAKK

Tiba-tiba kecelakaan terjadi di depan rumah kami. Aku dan Jason menoleh. Kami berada di sana, melihat langsung kecelakaan beruntun itu.

DEG

 Mobil silver itu. Mobil kedua orang tua dan adik perempuanku. Pandanganku mulai kabur, kepalaku pening, tubuhku melemas, dan yang terjadi setelah itu.. gelap.

∙∙∙

Aku memejamkan mataku, membiarkan air asin itu turun membasahi jejak air mata yang bahkan belum mengering. Perlahan, aku berdiri dari dudukku. Dan saat itu, sepasang lengan kekar memelukku dari belakang. Jason.

“Jangan menangis lagi. Maaf. Maafkan aku.” Bisiknya lembut. aku mengangguk, tapi tetap saja air mata bodoh itu tidak mau berhenti.

“Maaf aku tidak bisa menyelamatkan mama, papa dan Nami saat itu.” Jason membalikkan tubuhku, menghapus aliran air yang semakin deras itu.

“Aku berjanji akan menjagamu. Believe me.”

“Why? Why should you do this? This is forbidden love. It’s all wrong.” Aku menatapnya. Mencoba mencari celah ketidakpastian di matanya. Dan bodohnya, aku tidak menemukannya. Ia bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya.

Grepp..
Jason memelukku. Aku membenamkan wajahku di dadanya. 

“Aku.. mencintaimu. Aku tau ini salah. Maaf aku membuatmu melakukan hal yang salah. But, it’s not about Sin and God. It’s all for our happiness. Aku tau aku terlalu ego--”

 “Don’t ever leave me then. Jangan mencintai orang lain. Kau milikku.” Aku mengeratkan pelukanku, memotong kalimatnya. Jason mengelus kepalaku pelan.

“I promise. Just believe in me, okay?” Aku menganggukkan kepalaku.

“Thank you..”

“No need. Just take my hand and stay with me it’s enough.” Jason tersenyum, merenggangkan pelukan kami lalu mengambil tanganku. Mengecup tanganku lembut sebelum menarikku kembali ke pelukan hangatnya.

God, I love him.
Please forgive us.
Forgive our mistakes, our sin, and please don’t ever separate us.
I don’t know how can I spend my life time without him.
I just love him, this time and forever more.

∙∙∙

0 comments:

Post a Comment

© Dihilva's Space | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com