Sin
Author : Dihilva
Cast : OC (Jason and Tyra)
Rating : PG - 15
Genre : Sad(?)
Zrrrsh..
Aku
merasakan air yang ditumpahkan dari
langit. Dingin, terasa meremukkan tulang punggungku. Kurasakan tetesan air
turun dari mata kemudian melewati leher jenjangku. Bukan. Ini bukan air hujan.
Aku tahu, aku menangis. Lagi.
Tap..
tap.. tap..
Aku
mendengar suara langkah kaki yang mendekat berjalan di belakangku. Mendadak
tetesan air hujan itu berhenti membasahiku. Aku mendongakkan kepalaku, menatap
payung putih yang kini memaksa air hujan itu berhenti menyentuhku.
“Kenapa
masih disini?” Suara bass itu lagi. Pria itu membalikkan tubuhku menghadap ke
arahnya. Melepas jas yang ia kenakan, lalu menyampirkannya di tubuhku.
“Hiks..”
Isakanku keluar dari bibirku. Aku tak sanggup menatapnya. Tak sanggup merasakan
sakit saat perhatiannya diberikan padaku.
“K-kau
kenapa menangis? Maafkan aku..” Kagetnya mendengar pertanyaannya tadi terjawab
dengan isakanku. Ia memelukku dengan sebelah tangannya yang tidak memengang
payung putih itu. Aku menggeleng pelan di dadanya. Ia mengelus lembut kepalaku.
“Ayo
pulang. Jangan berteduh dibawah hujan seperti ini lagi.” Ujarnya lembut. Aku
mengangguk pelan.
“Berjanjilah!” tegasnya. Aku melepas pelukannya lalu menatap
mata musangnya dan menggandeng tangannya.
“Ayo
pulang” sahutku pelan tak menanggapi perkataannya tadi, aku takut tidak bisa
menepatinya. Aku terlalu menyukai air hujan ini.
Dia
mendesah pelan lalu merangkul pundakku dan melanjutkan perjalanan ke rumah
kecil berwarna merah kami.
∙∙∙
“Kenapa?”
Tanyaku pada pria yang tengah menyibukkan diri di mini-kitchen kami. Ia menoleh
padaku, mengerutkan keningnya.
“Kenapa
masih mengasihaniku?” Aku melanjutkan pertanyaanku, mengeratkan selimut yang
kugunakan, menyandarkan tubuhku pada sofa.
Ia
membawa dua buah cangkir yang mengepulkan asap. Menyodorkan salah satu cangkir
padaku. Aku mengambilnya lalu menghirup aromanya. Ah, coklat panas. Ia
tersenyum dan mendudukkan dirinya di sebelahku.
“Mengasihani?
Tidak pernah sedikitpun terbesit di pikiranku untuk mengasihimu. Semua
perhatian yang kuberikan bukan karena kasihan.” Ia menatapku dan membisikkan
“Aku menyayangimu.” Aku tertegun.
“Dengan
keadaanku yang menyedihkan seperti ini kau menyayangiku? Dengan alasan apa?”
Gumamku pelan.
“Without
any reasons. Just love you for today and forever more.”
“Bodoh..”
Gumamku pelan. Sesaat hanya terdengar suara rintik hujan yang mulai mereda.
“Kenapa
tidak kembali kepadanya? Kembalilah pada Vanny-mu..” Dia menatapku. Dapat
kulihat rahangnya mengeras mendengar nama satu-satunya wanita yang sangat
dibenci olehnya.
“
Dia tidak membutuhkanku.” Aku terdiam. Perkataannya benar, Vanny hanya
menghianatinya hanya untuk bersama Daniel.
“Kau
menyayanginya. Bahkan mencintainya, Jason.”
“Untuk
apa aku mempertahankan orang yang kusayang jika aku sendiri tidak bisa menjaganya?”
Sesaat, aku dapat melihat bayangan memorial masa lalu yang seolah berputar di
depan mataku. Teriakan itu, mobil itu, kejadian itu seolah benar-benar terjadi
kembali. Aku menatap iris obsidiannya. Ada ruang kosong di manik musang itu.
“Setidaknya
kau harus ada di sisinya. Bukan di sini, bukan di sampingku.”Bisikku. Aku
menunduk. Merasakan mataku yang memanas. Sesak.
Hening.
Aku tau dia sudah pergi meninggalkanku sendirian.
∙∙∙
Ah,
aku Tyra Larencque. Dua tahun lalu, aku tinggal bersama kedua orang tuaku,
kakak laki-lakiku, dan adik perempuanku yang manis. Tapi, setelah kecelakaan
beruntun itu, mereka semua pergi. Tidak, tidak semua. Kakak laki-lakiku masih
bersamaku sampai saat ini. Ya, pria tampan dengan mata musang itu, Jason
Larencque. Pria yang kucintai. Aku tau ini salah, tapi aku sudah masuk terlalu
jauh ke dalam jurang kesalahan ini, hingga aku tidak bisa mencari celah jalan
keluarnya.
Manik
mataku memandang jauh keluar jendela, bulir air hujan yang tak kunjung reda itu
seakan memutar kembali memori pahit itu.
∙∙∙
-Flashback-
“Sayang, mommy pergi okay?
Jaga dirimu. Ah, Jason sebentar lagi pulang. Cepat sembuh ya sayang.” Aku
mengangguk pelan, mengeratkan selimutku. Mama memelukku, aku sedikit mengelak
karena suhu badanku yang terasa semakin panas.
“Mom, hati-hati diluar hujan.”
Aku menatap wajah cantiknya, ia tersenyum.
Saat
itu, aku tidak pernah membayangkan pelukan hangatnya akan menjadi pelukan
terakhir di hidupku dan saat itu pula aku membiarkan mereka semua pergi.
Tak lama setelah mereka semua
pergi, suara hujan deras disertai suara motor kakakku terdengar. Sekuat tenaga
aku berusaha berdiri untuk membukakan pagar. Aku tidak ingin Jason kehujanan
lebih lama di luar sana.
Aku berdiri di depan rumah,
membawa sebuah payung putih. Membuka pagar hitam itu. Jason tersenyum, aku
menghampirinya. Memeluknya erat, tidak peduli dengan demamku lagi.
BRAKK
Tiba-tiba kecelakaan terjadi
di depan rumah kami. Aku dan Jason menoleh. Kami berada di sana, melihat langsung
kecelakaan beruntun itu.
DEG
Mobil silver itu. Mobil kedua orang tua dan
adik perempuanku. Pandanganku mulai kabur, kepalaku pening, tubuhku melemas,
dan yang terjadi setelah itu.. gelap.
∙∙∙
Aku
memejamkan mataku, membiarkan air asin itu turun membasahi jejak air mata yang
bahkan belum mengering. Perlahan, aku berdiri dari dudukku. Dan saat itu,
sepasang lengan kekar memelukku dari belakang. Jason.
“Jangan
menangis lagi. Maaf. Maafkan aku.” Bisiknya lembut. aku mengangguk, tapi tetap
saja air mata bodoh itu tidak mau berhenti.
“Maaf
aku tidak bisa menyelamatkan mama, papa dan Nami saat itu.” Jason membalikkan
tubuhku, menghapus aliran air yang semakin deras itu.
“Aku
berjanji akan menjagamu. Believe me.”
“Why?
Why should you do this? This is forbidden love. It’s all wrong.” Aku menatapnya.
Mencoba mencari celah ketidakpastian di matanya. Dan bodohnya, aku tidak
menemukannya. Ia bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya.
Grepp..
Jason
memelukku. Aku membenamkan wajahku di dadanya.
“Aku.. mencintaimu. Aku tau ini
salah. Maaf aku membuatmu melakukan hal yang salah. But, it’s not about Sin and
God. It’s all for our happiness. Aku tau aku terlalu ego--”
“Don’t ever leave me then. Jangan mencintai
orang lain. Kau milikku.” Aku mengeratkan pelukanku, memotong kalimatnya. Jason
mengelus kepalaku pelan.
“I
promise. Just believe in me, okay?” Aku menganggukkan kepalaku.
“Thank
you..”
“No
need. Just take my hand and stay with me it’s enough.” Jason tersenyum,
merenggangkan pelukan kami lalu mengambil tanganku. Mengecup tanganku lembut
sebelum menarikku kembali ke pelukan hangatnya.
God, I love him.
Please forgive us.
Forgive our mistakes, our sin, and please don’t ever separate us.
I don’t know how can I spend my life time without him.
I just love him, this time and forever more.
Please forgive us.
Forgive our mistakes, our sin, and please don’t ever separate us.
I don’t know how can I spend my life time without him.
I just love him, this time and forever more.
∙∙∙
0 comments:
Post a Comment